“Bayangkan, untuk jalur perseorangan, sebelum masuk arena saja, sudah harus bersentuhan langsung dengan voters, dan ini bukan barang murah, apalagi ke depan harus melawan petahana yang elektoralnya cukup tinggi”, tambahnya.
Terkait pasangan petahana, satu sisi menjadi jalan mulus bagi keduanya. Hingga hari ini sudah lebih dari setengah parpol yang ada di Maros, hanya pasangan Chaidir-Suhartina yang mengambil formulir,kemungkinan besar, parpol itupun akan turut dalam barisan koalisinya. Sehingga, bisa dikatakan ini menjadi koalisi gemuk dan mesin yang besar. Selain itu, 72,7 persen masyarakat puas dengan kinerja Chaidir-Suhartina. Hal ini juga menjadi tolak ukur bahwa masyarakat Maros berhasil menciptakan regenerasi kepemimpinan yang baik dan amanah. Menginginkan keberlanjutan dan pengembangan program yang telah ditorehkan sebelumnya.
Hanya saja, Amul mengingatkan grassroot movement yang kadang misterius dan sulit ditebak, sehingga jika kemungkinan besar akan melawan kotak kosong, perlu waspada terhadap yang mengisi gerakan kotak tersebut secara tidak nampak. Jangan sampai terlena dengan jalan mulus, lalu lupa bahwa terkadang kotak kosong itu memiliki “nyawa politik” yang bisa mematikan.
“Akumulasi dari pihak-pihak yang resisten terhadap pasangan petahana ini, bisa saja berkumpul di dalam kotak itu, belum lagi jika pemilih tidak diberikan pendidikan politik dan mobilisasi yang baik untuk datang ke TPS memilih, sebab biasanya jika berhadapan dengan kotak kosong, bisa saja para pemilih memiliki keseragaman pikiran dan tindakan untuk tidak ke TPS serta mencoba main-main dengan coblosan ke kotak kosong, ini patut diwaspadai.” paparnya.
Sehingga, tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua, jika benar ke depan pasangan petahana ini menghadapi kotak kosong, apakah akan menjadi jalan mulus atau memancing berkumpulnya para resisten untuk berkumpul mengisi kotak?
Halaman : 1 2










