SUARADARING.COM, PAREPARE – Memasuki H+6 Lebaran Idulfitri 2026, suasana arus mudik setelah hari raya masih terpantau padat di Pelabuhan Nusantara, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Jumat, 27 Maret 2026.
Sebanyak 3.235 penumpang tercatat turun dari tiga kapal yang bersandar. Penumpang yang mayoritas merupakan perantau baru sempat mudik karena sebelumnya tidak mendapatkan tiket atau baru memperoleh cuti dari tempat kerja.
Kepadatan penumpang sempat memicu desak-desakan saat proses turun dari kapal. Kondisi ini terlihat sesaat setelah KM Lambelu yang tiba dari Balikpapan bersandar di dermaga. Bahkan, sejumlah penumpang lanjut usia terpaksa dievakuasi oleh petugas untuk membantu mereka turun dengan aman dari tangga kapal.
Para pemudik yang sebagian besar berasal dari Kalimantan ini terlihat tidak sabar untuk segera melanjutkan perjalanan ke kampung halaman mereka di berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Salah satu pemudik tujuan Bone, Irham, mengaku baru bisa mudik karena kendala tiket.
“Saya dari Balikpapan mau ke Bone. Baru dapat tiket sekarang, sebelumnya tidak kebagian. Tidak apa-apa, yang penting bisa bertemu keluarga, walau cuti hanya sekitar dua minggu,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Tasnawarin, pemudik asal Tarakan tujuan Parepare. Ia menyebut baru memiliki kesempatan pulang setelah mendapatkan rezeki dan izin dari orang tua.
“Dari Tarakan mau ke Parepare, baru ada kesempatan mudik. Paling sekitar satu sampai dua minggu di kampung,” katanya.
Berdasarkan data KSOP Parepare, terdapat tiga kapal yang bersandar hari ini, yakni KM Lambelu dan KM Bukit Siguntang dari Balikpapan, Nunukan, dan Tarakan, serta KM Swarna Bahtera dari Balikpapan.
Secara kumulatif hingga H+6 Lebaran, jumlah penumpang yang turun di Pelabuhan Nusantara Parepare mencapai 33.884 jiwa, meningkat 25,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah penumpang yang berangkat tercatat sebanyak 12.257 jiwa atau naik 7,81 persen dibandingkan tahun lalu.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa fenomena mudik pasca-Lebaran masih menjadi tren, terutama bagi para pekerja yang tidak sempat pulang saat puncak arus mudik. (*)










