SUARADARING.COM, PAREPARE – Pertengahan tahun 2026 antrean kendaraan berbahan bakar solar tak kunjung melandai, bahkan memasuki bulan kedelapan pemandangan antrean kendaraan mesin diesel makin meningkat di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sejumlah daerah di Sulawesi selatan.
Seperti yang terlihat di kota Parepare, Sulawesi selatan. Antrean kendaraan berbahan bakar solar yang didominasi Truk mengantre di sejumlah SPBU hingga mengular di badan jalan raya yang dapat memicu terjadinya gangguan arus lilintas dan kecelakaan.
Kondisi ini menuai sorotan bagi pegiat LSM di kota Parepare. Ketua LSM Indonesia Care, Andi Ilham kepada suaradaring.com, pihaknya menyoroti kondisi antrean Mobil truk yang masih terus terjadi hingga hari ini dan hampir semua SPBU yang ada di kota Parepare. Ia menilai lemahnya pengawasan Pertamina terhadap penjualan BBM Jenis Solar subsidi di SPBU. Kamis, 30 Juli 2026.
Bahkan ia juga menyebut kondisi pasokan BBM khususnya solar subsidi tidak stabil dan berbanding terbalik pernyataan Pertamina yang menyatakan pasokan BBM jenis sola subsidi aman, namun kenyataannya berbeda di lapangan.
“Kondisi ini menandakan ketidak stabilan pasokan BBM khususnya Solar Subsidi. Selain itu berbanding terbalik dengan pernyataan pihak pertamina yang mengatakan bahwa pasokan BBM Subsidi solar untuk kendaraan Diesel diklaim Aman dan terpenuhi,”
Andi Ilham menuturkan, jika telah dikatakan stok aman berdasarkan pernyataan pihak Pertamina antrean kendaraan solar seharusnya melandai, namun antrean makin meluber hingga bahkan menutupi sebahagian badan jalan Nasional.
“Jika memang aman tentu kondisi antrean akan hilang dan tidak justru semakin panjang dan menutup sebahagian badan jalan Nasional yang ada di kota Parepare,”tuturnya.
Andi Ilham yang diketahui telah lama memantau kondisi tersebut juga mencurigai adanya aksi-aksi penyalahgunaan BBM jenis Solar Subsidi yang dilakukan oleh sejumlah oknum masyarakat dengan bekerjasama salah satu SPBU. Modusnya adalah memodifikasi tangki truk di atas kapasitas standar yang seharusnya hingga bahkan dicurigai truk box menyimpan tandong.
“Kondisi tangki juga perlu diperhatikan apakah masih standar atau sudah mengalami modifikasi agar dapat memuat lebih banyak dan bisa saja disalahgunakan nantinya untuk keperluan tertentu, dan bukan untuk keperluan transportasi. Sebab jika mobil dengan kapasitas 100 liter tentu punya range waktu pemakaian untuk 1 tangkinya, apakah 2 hingga 3 atau 4 hari kedepan baru loading ulang. Sehingga memang hal ini wajib mndapat perhatian serius,”ungkapnya.
“Seharusnya ada solusi cerdas di lapangan ,mungkin ada team yang khusus mengawasi atau ada aplikasi yang mencatat kndaraan serta platnya sehingga tidak terjadi double loading dalam waktu tertentu serta tidak terjadi loading pada SPBU berbeda dalam waktu hari yang sama,”pungkasnya. (*)










