Ia menambahkan, pendekatan budaya menjadi kunci keberhasilan inovasi ini karena program tidak hadir secara kaku, tetapi tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir.
“Pendekatan budaya membuat inovasi ini lebih mudah diterima. Pemberdayaan dilakukan dengan cara yang dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga perempuan pesisir tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama perubahan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Keberhasilan Parepare menjadi capaian penting bagi Indonesia dalam ajang penghargaan pelayanan publik bergengsi tingkat dunia tersebut. Selain penghargaan utama yang diraih Parepare, dua inovasi Indonesia lainnya juga memperoleh Honourable Mention dari PBB.
Pengakuan pertama diberikan kepada Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment (MAGMA) yang dikembangkan instansi kebencanaan nasional. Inovasi ini mendapat apresiasi pada kategori Delivering Inclusive and Equitable Services to Leave No One Behind karena menyediakan layanan informasi kebencanaan geologi yang cepat, mudah diakses, dan mendukung upaya mitigasi risiko bencana.
Sementara itu, Village Financial System (SISKEUDES) yang dikembangkan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) memperoleh Honourable Mention pada kategori Transparent and Accountable Public Institutions to Achieve the SDGs. Sistem tersebut dinilai berkontribusi dalam memperkuat tata kelola keuangan desa yang transparan, akuntabel, dan tertib administrasi.
Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil memperoleh pengakuan pada tiga dari empat kategori utama penghargaan yang diberikan dalam UNPSF 2026. Satu-satunya kategori yang tidak diraih Indonesia tahun ini adalah Participation and Public Engagement for Inclusive Decision-Making, yang dimenangkan oleh inovasi dari Thailand dan Brasil.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










