SUARADARING.COM, PAREPARE – Lonjakan bahan baku kedelai menjadi beban bagi para perajin tahu tempe di kota Parepare, Sulawesi selatan. Para pelaku usaha kecil tahu tempe mengaku harus mencari cara agar produksi tetap berjalan di tengah tekanan biaya.
Salah satu pengusaha tahu tempe di Jalan Cempae, kecamatan Soreang kota Parepare, Yayat yang ditemui mengaku kewalahan mangatur margin penjualan di tengah lonjakan harga bahan baku seperti kedelai dan plastik. Harga kedelai yang sebelumnya 10 ribu kini naik menjadi 11 ribu rupiah per-kilogram, sementara harga plastik dari 270 ribu naik menjadi 390 ribu rupiah per satu balnya. Jumat, 10 April 2026.
“Sekarang lagi naik-naiknya ini harga kedelai sama plastik, kedelai dari harga 10.200 naik menjadi 11 ribu plastiknya dari harga 270 ribu naik menjadi 390 per satu balnya. sekarang sementara harga produksi tidak naik walaupun menipis keuntungannya tetap kita jalankan begitu,”ungkapnya.
Menurut Yayat ia sengaja tidak menaikan harga produksi tahu tempe karena dikhawatirkan konsumen kaget dan tidak siap secara ekonomi membeli dengan harga yang cukup tinggi.
“kami tidak menaikkan kami juga pertimbangkan konsumen karena kalau dinaikan kadang-kadang konsumen terkendala faktor ekonomi artinya mereka belum siap,”katanya.
Meski begitu Yayat tetap menyiapkan cara lain agar konsumen tetap membeli tahu tempe di tempatnya. Salah satunya adalah mengurangi takaran.
“mau tidak mau kalau konsumen tidak mau harga dinaikan, terpaksa kami kurangi isinya. Sementara harga kami ada 2500 hingga 4000 rupiah. Jadi ada yang kami tidak produksi sementara saat ini adalah yang harga 2500 selama ini ada kenaikan kedelai sama plastik untuk tempe,”lanjutnya.
Kenaikan ini menjadi pukulan besar bagi pengusaha kecil tahu tempe di kota Parepare. di tambah dengan biaya operasional karyawan yang harus ditanggung oleh pihak pengusaha.
Meski bahan baku naik dan untung tipis, mereka tidak menaikan harga tahu tempe demi menjaga daya beli para konsumennya.
Dengan kenaikan harga bahan baku tersebut, para pengusahan tahu tempe di kota Parepare, alami kesulitan untuk mensiasati agar pembeli maupun langganan tetap membeli tahu tempe di tempatnya.
Mereka hanya bisa berharap kepada upaya pemerintah agar harga kedelai bisa kembali stabil. (*)










